Kendaraan Listrik, Kesempatan Usaha Saat Depan

Pemerintahan lewat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memprediksikan populasi mobil listrik di Indonesia di tahun 2024 capai 125.000 unit, dan motor listrik capai 1,34 juta unit. Bertambahnya populasi kendaraan listrik ini bersamaan secara mengembangnya trend pemakaian kendaraan listrik di dunia.

Diprediksi sampai tahun akhir 2025 ada sekitaran 10 juta mobil listrik yang mengaspal di dunia. Trend penggunaan mobil listrik ini diprediksikan akan semakin meningkat dan makin tinggi.

Dalam Gagasan Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035 yang dikeluarkan Kementrian Perindustrian di tahun 2030 produksi mobil listrik ditarget capai 600 ribu unit dan sepeda motor listrik 2,45 juta unit. Sasaran produksi itu diharap sanggup turunkan emisi karbondioksida (CO2) sejumlah 2,tujuh juta ton untuk kendaraan beroda 4 dan 1,1 juta ton untuk beroda 2.

Menyaksikan pemakaian kendaraan listrik yang semakin meningkat dari tahun ke tahun jadikan keadaan ini sebagai kesempatan sekalian rintangan. Apalagi dunia sedang ramai-ramai ke arah pemakaian energi bersih secara terus berusaha turunkan keterikatan pada bahan bakar minyak.

“Ini saya anggap yang lebih bernilai yakni jadikan kesempatan untuk tingkatkan ekonomi dengan ambil nilai lebih dari produksi kendaraan listrik di Indonesia,” tutur Prof. Dr. Ir. Bambang Agus Kironoto sebagai Caretaker Pustral UGM, Selasa (14/12).

Memberikan sepatan kata pada website seminar bertopik “Kesempatan dan Rintangan Kendaraan Listrik di Indonesia” yang diadakan Pustral UGM, dia sampaikan sebagai rintangan sekarang ini ialah harga mobil listrik masih condong tambah mahal dibandingkan kendaraan dengan bahan bakar minyak. Selain itu, perlu mulai dipikir sejumlah faktor yang lain berbentuk standarisasi kendaraan listrik pada segi infrastruktur simpatisan seperti Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU), pemeliharaan, dan lain-lain.

“Ini jadi penting untuk diulas bagaimana kesempatan yang bisa digunakan ada perubahan pemakaian kendaraan listrik di Indonesia dan UGM dapat berperan serta dalam penelitian peningkatan kendaraan listrik ini,” bebernya.

MOBIL LISTRIK

Dr. Eng. Muh Bijak Wibisono, S.T., M.T D sebagai team pakar dari Pustral UGM sampaikan berkaitan dengan sejarah dan pengertian kendaraan listrik. Dia menjelaskan juga masalah peraturan, bagaimana hasil penelitian peningkatan research and development berkaitan dengan peningkatan kendaraan listrik di lingkungan akademiki ditempatkan pada kesempatan dan rintangan kendaraan listrik di depan.

“Bagaimana juga kehadiran kendaraan listrik di masa datang buka kesempatan usaha. Kesempatan usaha ini lebih dari banyak hal sebagai kekuatan usaha, dimulai dari saat sebelum produksi, operasional, s/d saat produksi, dan yang selanjutnya jadi rintangan penting ialah bagaimana memperkenalkan Elektronik Vehicle (EV) ke warga,” jelasnya.

Indra Pertama, S.T., MT., Ph.D, dosen Departemen Tehnik Kimia, FT UGM, menambah desas-desus yang berkembang sekarang ini dan yang akan datang ialah pada kekuatan perkembangan ekosistem mobil listrik. Ekosistem mobil listrik, seperti pengadaan dan keperluan battery bisa menjadi benar-benar penting bersamaan makin tumbuhnya ekosistem kendaraan listrik.

Indra menerangkan elemen atau material penyusun battery tidak bisa selanjutnya didaur kembali. Penelitian-riset untuk temukan material lain sebagai bahan baku produksi battery perlu dilaksanakan.

Disamping itu, dibutuhkan pengembangan lain peningkatan tipe battery selainnya Lithium-Ion Baterai yang terdapat sekarang ini. Dikatakannya, usaha kendaraan listrik adalah salah satunya sisi circular economy yang lebih besar.